
bersama warkah ini,
aku berdiri di hadapan kalian,
bukanlah aku pujangga hendak bermadah bicara
bukan juga malaikat hendak menyata sempurna
tetapi aku hanyalah sebahagian kamu
yang bersuara untuk peringatan bersama
langit sudah kusam
mentari telah malap
bulan hilang cahaya
bumi merajuk dengan kerosakan yang berada di atasnya
manusia mengkerunyuk sejadah dan doa
mengangkat dahi dari sujud, melurus tubuh dari ruku’
berpaling daripada Yang Esa
menurut hawa nafsu mereka
“Ini modenisasi, yang itu adalah ortodok, mundur!” itu laungan mereka
maka rosaklah bumi hasil perbuatan tangan-tangan manusia
itu realiti, yang kita akan jumpai
tolehlah kanan dan ke kiri
terselit di dalam skrip drama, terlaung dalam lagu dan irama
wujud dalam paradigma ummah
virus halus, merobek moral dan menghancur suasana
sekelompok manusia hanya bijak menuding jari
ini perbuatan illuminati, ini semua kerja freemason
sedang jahiliyyah memang adalah musuh,
sekelompok manusia hanya tahu berdebat teori,
kalian salah, kami benar, kalian silap, kami betul
sedang yang ditikam adalah saudara sendiri
tatkala musuh memusnahkan pintu-pintu kita
merayap menyusup menjajahi roh dan minda, meletakkan dunia di tangan mereka
sedang kita
praktisnya tiada, geraknya tidak seberapa,
satu perkara telah hilang
pengorbanan, itulah namanya
jangan kau bangga dengan Islam yang kau ada
jika diri kita tidak mampu berkorban
maka itu tanda mandulnya iman
iman yang subur, adalah iman yang membuahkan amalan
bukan perdebatan dan sengketa
tetapi praktis dan gerak kerja
lihatlah keluarga ibrahim
apa kau hitung titis peluh ketua keluarganya,
yang merentas sahara untuk menyembelih seorang anak
atas hanya satu sebab yang jelas dan dia percaya
Perintah Allah Yang Maha Mengetahui Segala
Lihatlah keluarga ibrahim
apa kau lihat sopannya Ismail
yang merebahkan dirinya dan bersedia
untuk ditarah leher ditarik nyawa
atas hanya satu sebab yang jelas dan dia percaya
Perintah Allah Yang Tidak Akan Menzalimi HambaNya
Lihatlah keluarga Ibrahim
apa kau lihat tabahnya Hajar
membesarkan anak di tengah padang pasir
ditinggalkan suami di tengah hangat
dan melihat anak diambil pergi untuk disiat
atas hanya satu sebab yang jelas dan dia percaya
Perintah Allah Yang Tidak Akan Sesekali Memungkiri JanjiNya
Oh, dan lihatlah diri kita semula
hamba hina dari lumpur busuk
sedang nikmatNya tidak terhitung buat kita
namun selimut lebih kita cinta
ego lebih kita sayang
hawa nafsu lebih kita percaya,
membuatkan tubuh menjadi berat
hatta solat dilewat-lewat
apatah lagi yang lebih besar dan lebih berat?
saban tahun
kita hanya tahu berhari raya menyembelih binatang
tetapi kita tidak pernah tahu
bagaimana menyembelih jahiliyyah di dalam diri
bersama warkah ini,
aku berdiri di hadapan kalian,
berbicara akan pengorbanan
untuk diriku dan kita bersama
agar Adha kita tidak berlalu sebagai pesta perayaan
bahkan
satu titik untuk melakukan perubahan
~Hilal Asyraf~
Puisi ini aku ambil dari http://ms.langitilahi.com/puisi-erti-pengorbanan/
ya sangat setuju dengannya...jangan hanya debatkan teori tapi ayuh melangkah untuk beraksi! praktikal tak semudah teori...tapi itulah hakikatnya.. dan aku sememangnya masih bertatih, masih dalam kepompong mahu mengepakkan sayap demi menceriakan alam ini...tapi insyaAllah aku akan menjadi antara rama2 yang mewarnakan lagi bumi Ilahi ini...insyaAllah!
0 comments:
Post a Comment